Minggu, 21 Oktober 2018


NAMA        : Aldi Perdana Ibrahim
NPM           : 30415465
KELAS        : 4ID05


EKOSISTEM MANGROVE KAWASAN PESISIR TELUK BALIKPAPAN

Kali ini saya Aldi Perdana Ibrahim menceritakan sedikit cerita alam disekitar kampung halaman saya Balikpapan, saya ambil tema ini karena saya sendiri pun bersekolah di SMA NEGERI 8 BALIKPAPAN diamana saya rasa sekolah ini merupakan salah satu sekolah di INDONESIA yang berbasis Mangrove, jadi kehidupan saya dari kecil akan alam pesisir sampai saya beranjakdewasa dan bersekolah yang berbasis MANGROVE tau akan hal yang cukup komplek akan hal tersebut.

Membicarakan wilayah pesisir adalah hal menarik yang bisa menguras banyak energi dan perdebatan panjang tentang apa, siapa, dan bagaimana seharusnya wilayah pesisir tersebut dikelola. Tetapi pembicaraan tersebut lebih banyak pada hal-hal yang sifatnya wacana, strategi dan upaya untuk memanfaatkan potensi yang ada tanpa mau melihat kondisi riil wilayah pesisir itu sendiri.
Wilayah pesisir merupakan suatu daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan yang memiliki produktivitas hayati tinggi. Sumberdaya pesisir berperan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja dan pedapatan penduduk. Suatu kota yang memiliki wilayah pesisir secara tidak langsung memiliki suatu keistimewaan tersendiri. Melalui kawasan pesisirnya, kota tersebut dapat menggali berbagai aspek yang bisa membawa manfaat kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Kota yang berada di wilayah pesisir merupakan jalan akses masuk dan distribusi barang di suatu pulau. Keberadaan kota tersebut menjadi sangat strategis dan sayang apabila tidak dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Namun untuk mengembangkan wilayah pesisir diperlukan kajian mendalam tentang ekosistem dan struktur pesisir daerah tersebut agar pengelolaan yang dilakukan bisa tepat sasaran dan tidak menimbulkan efek samping.

Di Kalimantan Timur yang merupakan kampung halaman saya, di propinsi ini terdapat program dasar pemerintah untuk daerah pesisir adalah pengenalan model pengelolaan pesisir berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS), yang menitikberatkan pada rencana pengelolaan terpadu khususnya Teluk Balikpapan sebagai salah satu kawasan pesisir dan laut di Kalimantan Timur, selain memiliki potensi pembangunan, juga memiliki ancaman tekanan eksploitasi yang dapat mengarah kepada kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam pesisir bila tidak dikelola dengan baik.
Teluk Balikpapan terletak di antara Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (hasil pemekaran Kabupaten Pasir). Teluk ini telah memberi kontribusi dalam perkembangan dan pembangunan kedua daerah administrasi tersebut secara khusus maupun untuk Provinsi Kalimantan Timur pada umumnya. Di teluk ini terdapat fasilitas pelabuhan dan dermaga yang melayani penumpang maupun barang serta fasilitas pendukung bagi kegiatan industri minyak dan gas. Selain memiliki potensi pembangunan, juga memiliki ancaman tekanan eksploitasi yang dapat mengarah kepada kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam pesisir bila tidak dikelola dengan baik. Dengan begitu, kawasan pesisir teluk Baikpapan memiliki daya tarik untuk pengembangan berbagai aktivitas. Kawasan pesisir teluk balikpapan telah berkembang menjadi pusat-pusat permukiman dan perkotaan yang diikuti oleh berbagai kegiatan perdagangan dan jasa. Kegiatan lainnya yang berkembang di wilayah pesisir teluk balikpapan adalah perikanan budidaya (tambak), pertanian dan industri. Sementara pada bagian hulu dikembangkan kegiatan perkebunan dan kehutanan.  Namun dampak dari peningkatan kegiatan-kegiatan di Balikpapan secara tidak langsung berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan yang meningkat, megakibatkan berkurangnya ruang terbuka hijau di Balikpapan. Salah satu kawasan yang mendapat perhatian berhubungan dengan berkurangnya luasan ruang terbuka hijau khususnya hutan mangrove. Dan memang salah satu ekosistem pesisir yang mengalami tingkat degradasi cukup tinggi akibat pola pemanfaatannya yang cenderung tidak memperhatikan aspek kelestariannya adalah hutan mangrove.
Strategi pengelolaan teluk Balikpapan tidak dapat dipisahkan dengan perencanaan Kawasan Industri Kariangau, rencana Pelabuhan Peti Kemas di Kariangau, rencana pembuatan jembatan Penajam-Balikpapan yang telah mengancam ekosistem teluk tersebut dan tentunya akan menimbulkan bencana. Beberapa industri memulai aktivitasnya dengan cara tidak ramah di sepanjang pantai yakni dengan menutup hulu sungai, menimbun mangrove sepanjang sempadan sungai dan nyaris mematikan beberapa anak sungai, dan aktivitas lain seperti usaha tambak. Pembukaan lahan kawasan bakau oleh pemerintah menimbulkan erosi, sedimentasi, intrusi ar laut dan gelombang besar di Teluk Balikpapan, serta sungai-sungai di sekitarnya. Gas karbon dan emisi gas rumah kaca di Balikpapan langsung dilepaskan ke atmosfer akibat berkurangnya pengikatan gas tersebut oleh hutan bakau. Produksi ikan di perairan teluk balikpapan menjadi kuran drastis karena kerusakan hutan bakau dan terumbu karang yang merupakan tempat berkembangnya biota laut sehingga berdampak pada kehidupan ekonomi nelayan setempat. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan hutan magrove yang sebenarnya banyak manfaatya untuk keberlanjutan hidup mahluk hidup. Banyaknya manfaat dan pentingnya peran mangrove dalam keberlanjutan lingkungan sekitar maka perlu dilakukan pengelolaan hutan mangrove secara lestari diperlukan pengetahuan tentang nilai strategis dari keberadaan hutan mangrove yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah terhadap sumber daya pesisir teluk Balikpapan dibutuhkan peran serta masyarakat dan pemerintah agar dapat berkoordinasi dalam pelaksanaan dan pengawasan kebijakan tersebut secara terus menerus. Pengelolaan ekosistem hutan mangrove dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat merupakan suatu proses yang menurut saya dinamis dan berkelanjutan sehingga dapat menyatukan berbagai kepentingan (pemerintah dan masyarakat), ilmu pengetahuan dan pengelolaan dan kepentingan sektoral dan masyarakat umum. Perlibatan masyarakat dan pemerintah diperlukan untuk kepentingan pengelolaan secara berkelanjutan pada sumberdaya dan pada umumnya kelompok masyarakat yang berbeda akan berbeda pula dalam kepentingannya terhadap sumberdaya tersebut. Pengelolaan sumberdaya tidak akan berhasil tanpa mengikut sertakan semua pihak-pihak yang memiliki kepentingan.

Saya rasa untuk mempermudah proses implementasi program tersebut,perlu dibentuk suatu badan yang secara khusus mengelola Teluk Balikpapan yang diharapkan melalui pembentukan badan ini dapat tercipta perencanaan program secara terpadu, usulan pembuatan kebijakan, monitoring dan evaluasi serta pencarian sebagian dana dapat difasilitasi, dan tentunya melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat perlu dibentuk suatu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), dan diharapkan di teluk balikpapan bisa menerapkan konsep program ini dengan membentuk suatu kelompok dalam pengelolaan berbasis masyarakat. Badan ini juga diharapkan dapat mewadahi kepentingan dari pihak yang terkait di Teluk Balikpapan. Selain dapat menjaga ekosistem dipesisir teluk Balikpapan Program-program lain yang menarik untuk dipertimbangkan upaya mengatasi kerusakan hutan mangrove di teluk balikpapan dengan memanfaatkannya dengan konsep ekowisata, hal ini bisa menjadi bisa menjadi salah satu ciri khas wisata di kota Balikpapan sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah karena dapat menarik banyak wisatawan luar untuk berkunjung ke hutan mangrove teluk Balikpapan. Hal ini juga dapat membuka lapangan pekerjaannya bagi masyarakat sekitar dan memberi pengetahuan kepada para pengunjung akan pentingnya keberadaan hutan mangrove terhadap lingkungan.

Saya rasa sebagai dengan kita menjaga sinergi akan alam pesisir dengan kita sebagai manusia lokal pesisir merupakan salah satu pilar bangsa bahari.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar