NAMA : Aldi Perdana
Ibrahim
NPM : 30415465
KELAS : 4ID05
EKOSISTEM MANGROVE KAWASAN PESISIR TELUK BALIKPAPAN
Kali ini saya Aldi Perdana Ibrahim menceritakan sedikit
cerita alam disekitar kampung halaman saya Balikpapan, saya ambil tema ini
karena saya sendiri pun bersekolah di SMA NEGERI 8 BALIKPAPAN diamana saya rasa
sekolah ini merupakan salah satu sekolah di INDONESIA yang berbasis Mangrove,
jadi kehidupan saya dari kecil akan alam pesisir sampai saya beranjakdewasa dan
bersekolah yang berbasis MANGROVE tau akan hal yang cukup komplek akan hal
tersebut.
Membicarakan
wilayah pesisir adalah hal menarik yang bisa menguras banyak energi dan
perdebatan panjang tentang apa, siapa, dan bagaimana seharusnya wilayah pesisir
tersebut dikelola. Tetapi pembicaraan tersebut lebih banyak pada hal-hal yang
sifatnya wacana, strategi dan upaya untuk memanfaatkan potensi yang ada tanpa
mau melihat kondisi riil wilayah pesisir itu sendiri.
Wilayah
pesisir merupakan suatu daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan
yang memiliki produktivitas hayati tinggi. Sumberdaya pesisir berperan penting
dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk meningkatkan
penerimaan devisa, lapangan kerja dan pedapatan penduduk. Suatu kota yang memiliki wilayah pesisir
secara tidak langsung memiliki suatu keistimewaan tersendiri. Melalui kawasan
pesisirnya, kota tersebut dapat menggali berbagai aspek yang bisa membawa
manfaat kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Kota yang berada di
wilayah pesisir merupakan jalan akses masuk dan distribusi barang di suatu
pulau. Keberadaan kota tersebut menjadi sangat strategis dan sayang apabila
tidak dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Namun untuk mengembangkan wilayah
pesisir diperlukan kajian mendalam tentang ekosistem dan struktur pesisir
daerah tersebut agar pengelolaan yang dilakukan bisa tepat sasaran dan tidak
menimbulkan efek samping.
Di
Kalimantan Timur
yang merupakan kampung halaman saya, di propinsi ini terdapat
program dasar pemerintah untuk daerah
pesisir adalah pengenalan model pengelolaan pesisir berbasis Daerah Aliran
Sungai (DAS), yang menitikberatkan pada rencana pengelolaan terpadu khususnya Teluk
Balikpapan sebagai salah satu kawasan pesisir dan laut di Kalimantan Timur,
selain memiliki potensi pembangunan, juga memiliki ancaman tekanan eksploitasi
yang dapat mengarah kepada kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam pesisir
bila tidak dikelola dengan baik.
Teluk
Balikpapan terletak di antara Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara
(hasil pemekaran Kabupaten Pasir). Teluk ini telah memberi kontribusi dalam
perkembangan dan pembangunan kedua daerah administrasi tersebut secara khusus
maupun untuk Provinsi Kalimantan Timur pada umumnya. Di teluk ini terdapat
fasilitas pelabuhan dan dermaga yang melayani penumpang maupun barang serta
fasilitas pendukung bagi kegiatan industri minyak dan gas. Selain memiliki
potensi pembangunan, juga memiliki ancaman tekanan eksploitasi yang dapat
mengarah kepada kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam pesisir bila tidak
dikelola dengan baik. Dengan begitu, kawasan
pesisir teluk Baikpapan
memiliki daya tarik untuk pengembangan berbagai aktivitas. Kawasan pesisir
teluk balikpapan telah berkembang menjadi pusat-pusat permukiman dan perkotaan
yang diikuti oleh berbagai kegiatan perdagangan dan jasa. Kegiatan lainnya yang
berkembang di wilayah pesisir teluk balikpapan adalah perikanan budidaya (tambak),
pertanian dan industri. Sementara pada bagian hulu dikembangkan kegiatan
perkebunan dan kehutanan. Namun dampak
dari peningkatan kegiatan-kegiatan di Balikpapan secara tidak langsung
berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan yang meningkat, megakibatkan
berkurangnya ruang terbuka hijau di Balikpapan. Salah satu kawasan yang
mendapat perhatian berhubungan dengan berkurangnya luasan ruang terbuka hijau
khususnya hutan mangrove. Dan
memang salah satu ekosistem pesisir yang mengalami tingkat degradasi cukup
tinggi akibat pola pemanfaatannya yang cenderung tidak memperhatikan aspek
kelestariannya adalah hutan mangrove.
Strategi
pengelolaan teluk Balikpapan tidak dapat dipisahkan dengan perencanaan Kawasan
Industri Kariangau, rencana Pelabuhan Peti Kemas di
Kariangau, rencana pembuatan jembatan Penajam-Balikpapan yang telah mengancam
ekosistem teluk tersebut dan tentunya akan menimbulkan bencana. Beberapa
industri memulai aktivitasnya dengan cara tidak ramah di sepanjang pantai yakni
dengan menutup hulu sungai, menimbun mangrove sepanjang sempadan sungai dan
nyaris mematikan beberapa anak sungai, dan aktivitas lain seperti usaha tambak. Pembukaan lahan kawasan bakau oleh pemerintah
menimbulkan erosi, sedimentasi, intrusi ar laut dan gelombang besar di Teluk
Balikpapan, serta sungai-sungai di sekitarnya. Gas karbon dan emisi gas rumah
kaca di Balikpapan langsung dilepaskan ke atmosfer akibat berkurangnya
pengikatan gas tersebut oleh hutan bakau. Produksi ikan di perairan teluk
balikpapan menjadi kuran drastis karena kerusakan hutan bakau dan terumbu
karang yang merupakan tempat berkembangnya biota laut sehingga berdampak pada
kehidupan ekonomi nelayan setempat. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
keberadaan hutan magrove yang sebenarnya banyak manfaatya untuk keberlanjutan
hidup mahluk hidup. Banyaknya manfaat dan
pentingnya peran mangrove dalam keberlanjutan lingkungan sekitar maka perlu
dilakukan pengelolaan hutan mangrove secara lestari diperlukan pengetahuan
tentang nilai strategis dari keberadaan hutan mangrove yang bermanfaat bagi
masyarakat sekitar.
Untuk
mencegah kerusakan yang lebih parah terhadap sumber daya pesisir teluk Balikpapan dibutuhkan peran serta masyarakat dan pemerintah agar dapat
berkoordinasi dalam
pelaksanaan dan pengawasan kebijakan tersebut secara terus menerus. Pengelolaan ekosistem
hutan mangrove dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat merupakan suatu proses yang menurut saya dinamis dan berkelanjutan sehingga dapat menyatukan berbagai kepentingan
(pemerintah dan masyarakat), ilmu pengetahuan dan pengelolaan dan kepentingan
sektoral dan masyarakat umum. Perlibatan masyarakat dan pemerintah diperlukan untuk kepentingan
pengelolaan secara berkelanjutan pada sumberdaya dan pada umumnya kelompok
masyarakat yang berbeda akan berbeda pula dalam kepentingannya terhadap
sumberdaya tersebut. Pengelolaan sumberdaya tidak akan berhasil tanpa mengikut
sertakan semua pihak-pihak yang memiliki kepentingan.
Saya rasa untuk
mempermudah proses implementasi program tersebut,perlu dibentuk suatu badan yang secara khusus mengelola Teluk Balikpapan yang
diharapkan melalui pembentukan badan ini dapat tercipta perencanaan program
secara terpadu, usulan pembuatan kebijakan, monitoring dan evaluasi serta
pencarian sebagian dana dapat difasilitasi, dan tentunya melibatkan
partisipasi aktif masyarakat setempat perlu dibentuk suatu Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM), dan diharapkan di teluk balikpapan bisa menerapkan konsep
program ini dengan membentuk suatu kelompok dalam pengelolaan berbasis
masyarakat. Badan ini juga diharapkan dapat mewadahi kepentingan dari pihak
yang terkait di Teluk Balikpapan. Selain dapat menjaga ekosistem dipesisir teluk Balikpapan Program-program
lain yang menarik untuk
dipertimbangkan upaya mengatasi kerusakan hutan mangrove di teluk balikpapan
dengan memanfaatkannya dengan konsep ekowisata, hal ini bisa menjadi bisa menjadi salah satu ciri khas wisata di kota Balikpapan sehingga dapat
meningkatkan perekonomian daerah karena dapat menarik
banyak wisatawan luar untuk berkunjung ke hutan mangrove teluk Balikpapan. Hal ini juga dapat membuka lapangan
pekerjaannya bagi masyarakat sekitar dan memberi pengetahuan kepada para
pengunjung akan pentingnya keberadaan hutan mangrove terhadap lingkungan.
Saya rasa sebagai dengan kita menjaga sinergi akan alam
pesisir dengan kita sebagai manusia lokal
pesisir merupakan
salah satu pilar bangsa
bahari.





