Nama : Aldi Perdana Ibrahim
NPM : 30415465
Kelas : 3ID05
Pembahasan untuk tugas softskill kali ini mengenai "Pertumbuhan dan Pertambahan Penduduk"
1.
LANDASAN
Laju pertumbuhan
penduduk merupakan permasalahan krusial yang dihadapi oleh negara-negara
berkembang di dunia, khususnya negara-negara berpenduduk besar dan padat sperti
Indonesia. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data dasar yang diperoleh
mengenai jumlah kelahiran, sehingga diperlukan berbagai upaya yang
berkesinambungan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Indonesia sebagai
suatu negara yang sedang berkembang dengan penduduk terbesar nomor empat di
dunia, juga menghadapi persoalan yang serupa.
Laju pertumbuhan
penduduk di Indonesia senantiasa mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari
hasil sensus penduduk 2016, Indonesia menunjukkan gejala ledakan penduduk. Jumlah
penduduk Indonesia tahun 2016 tercatat sebanyak 257.912.349 jiwa Sedangkan laju
pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini masih di angka 1,49 persen. Maka dalam
satu tahun penduduk indonesia bertambah sekitar 4 juta jiwa, sebagaimana
dikatakan Kepala BKKBN Pusat dr Surya Chandra. Artinya, di bulan Juli 2017
jumlah penduduk Indonesia lebih dari 262 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk
ini jika tetap pada angka itu, pada 2045 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan
mencapai 450 juta jiwa. Peningkatan penduduk yang tinggi ini akan mengakibatkan
permasalahan jika tidak dikendalikan.
Definisi dari laju
pertumbuhan penduduk itu sendiri adalah Angka yang menunjukan tingkat
pertambahan penduduk pertahun dalam jangka waktu tertentu. Angka ini dinyatakan
sebagai persentase dari penduduk dasar. Laju pertumbuhan penduduk dapat
dihitung menggunakan tiga metode, yaitu aritmatik, geometrik, dan eksponesial.
Metode yang paling sering digunakan di BPS adalah metode geometrik.
2.
PERKEMBANGAN
PENDUDUK INDONESIA
Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai
perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per
waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada
semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara
informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan
untuk merujuk pada perubahan penduduk dunia. Maka yang melandasi perkembangan
penduduk di Indonesia adalah banyaknya kelahiran di bandingkan dengan kematian
dan banyaknya imigran dari desa ke kota yang menumpuknya manusia di kota dan
sedangkan yang di desa berkurang. Banyaknya imigran dari desa ke kota
dikarenakan dikitnya atau kurangnya lapangan pekerjaan dibandingkan dengan di kota-kota
yang membuat orang desa mencari makan di kota dan menyebabkan banyaknya atau
menumpuknya orang di kota.
Perkembangan
penduduk di Indonesia dikarenakan banyaknya atau meningkatnya data kelahiran
per hari di bandingkan data kematian per hari yang mengakibatnya banyaknya
kehidupan tidak sebanding banyaknya kematian yang mengakibatkan penumpukan atau
pertambahan penduduk di Indonesia semakin tahun semakin bertambah
Berdasar
data yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tjahjo Kumolo,
jumlah penduduk Indonesia per 30 Juni 2016 sebanyak 257.912.349 jiwa. Adapun
jumlah wajib KTP per 31 Desember 2015 yakni 182.588.494 jiwa. Sedangkan laju
pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini masih di angka 1,49 persen. Maka dalam
satu tahun penduduk indonesia bertambah sekitar 4 juta jiwa, sebagaimana
dikatakan Kepala BKKBN Pusat dr Surya Chandra. Artinya, di bulan Juli 2017
jumlah penduduk Indonesia lebih dari 262 juta jiwa. Penduduk Indonesia yang
sudah melakukan perekaman data e-KTP per tanggal 31 Agustus 2016 sebanyak
162.047.403 jiwa. Artinya, masih ada sekitar 20.541.091 jiwa yang belum
melakukan perekaman data e-KTP. Bila dilihat dari luas wilayah pada peta
penyebaran penduduknya terlihat tidak merata di 34 propinsi. Berdasarkan hasil
sensus penduduk sekitar 60% penduduk tinggal di pulau Jawa, padahal luas pulau
Jawa hanya 7% dari luas wilayah Indonesia. Dilain pihak pulau Kalimantan yang
luas wilayahnya hanya ditempati oleh 5% dari jumlah penduduknya. Kondisi
tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk Indonesia tidak seimbang. Kondisi
tersebut memerlukan upaya pemerataan dan upaya tersebut telah dilaksanakan
melalui program transmigrasi dan gerakan kembali ke Desa. Dilihat dari tingkat
pertambahan penduduknya Indonesia masih tergolong tinggi, hal ini bila tidak
diupayakan pengendalianya akan menimbulkan banyak masalah.
Di
Indonesia dari tingkat partisipasi anak usia sekolah baru mencapai 53% meskipun
wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan oleh pemerintah. Masalah-masalah
lain seperti ketenagakerjaan 77% angkatan kerja masih berpendidikan rendah.
Dampaknya terhadap pendapatan perkapita yang pada gilirannya akan berpengaruh
terhadap kualitas hidup. Juga terhadap kehidupan rumah tangga seperti
perceraian dan perkawinan yang akan berpengaruh terhadap angka kelahiran dan
kematian yang dalam banyak hal dijadikan indikator bagi kesejahteraan suatu
negara. Nampaknya sederhana, tetapi harus diingat bahwa manusia adalah sebagai
subjek tetapi juga sekaligus objek pembangunan sehingga bila tidak diantisipasi
mungkin pada gilirannnya akan berakibat ketidakstabilan atau kerapuhan suatu
negara. Permasalahan Penduduk (Kuantitas dan Kualitas) : Pembangunan suatu
bangsa berkaitan erat dengan permasalahan kependudukannya. Suatu pembangunan
dapat berhasil jika didukung oleh subjek pembangunan, yakni penduduk yang
memiliki kualitas dan kuantitas yang memadai.
3.
PERTAMBAHAN
PENDUDUK DAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN
Penataan ruang tidak
lagi semata menjembatani kepentingan ekonomi dan sosial. Lebih jauh dari kedua
hal itu (ekonomi dan sosial), penataan ruang telah berubah orientasinya pada
aspek yang benar-benar berpihak untuk kepentingan lingkungan hidup, sebagai
konsekuensi keikut-sertaan Indonesia pada upaya menekan pemanasan global. Dalam
UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, telah ditegaskan mengenai tujuan
penyelenggaraan penataan ruang yaitu mewujudkan ruang wilayah nasional yang
aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan, serta menciptakan keharmonisan
antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. Keterpaduan dalam penggunaan
sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia;
serta perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Lingkungan pemukiman
adalah tempat atau dimana semua warga menempati dan menjadikan sebagai tempat
tinggal,tempat usaha atau sebagai sumber usaha dan sebagainya. Lingkungan
pemukinman akan menjadi baik atau lebih buruk tergantung pada pengelolaan yang
menempati wilayah tersebut.
Perkembangan suatu kota
yang semakin pesat dapat memacu juga kepadatan suatu daerah. Hal ini disebabkan
karena beragamnya kebutuhan hidup masyarakat perkotaan dan adanya upaya untuk
memberi kemudahan dalam memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Pertumbuhan
penduduk yang semakin besar sebagai akibat dari perkembangan pada aktivitas
kota dan proses industrialisasi terutama di beberapa kota di Indonesia yang
mengakibatkan banyak berkembangnya kawasan komersial. Berkembangnya suatu kota
pasti akan diikuti oleh pertambahan jumlah penduduk. Salah satu permasalahan
yang muncul seiring dengan perkembangan suatu kota adalah masalah perumahan dan
pemukiman. Menurut Bintarto (Pos Kota edisi Juni, 2012) pemukiman menempati
areal paling luas dalam pemanfaatan ruang, mengalami perkembangan yang selaras
dengan perkembangan penduduk dan mempunyai pola-pola tertentu yang menciptakan
bentuk dan struktur suatu kota yang berbeda dengan kota lainnya. Perkembangan
permukiman pada bagian-bagian kota tidaklah sama, tergantung pada karakteristik
kehidupan musyarakat, potensial sumber daya kesempatan kerja yang tersedia,
kondisi fisik alami serta fasilitas kota yang terutama berkaitan dengan
infrastruktur. Kemajuan dan perkembangan suatu kota tidak terlepas dari
pembentuk kota. Pembentuk tersebut meliputi sosial budaya, ekonomi, pemukiman,
kependudukan, sarana dan prasarana serta transportasi.
Jika adanya peningkatan
jumlah penduduk akan menyebabkan terjadinya peningkatan kegiatan
sosial-ekonomi, juga peningkatan kebutuhan pelayanan, dan akan terjadi peningkatan
prasarana. Maka dengan semakin banyaknya jumlah penduduk yang bertempat tinggal
dalam suatu wilayah yang sama dan melakukan kegiatan yang sama pula akan
menimbulkan suatu masalah. Keadaan ini sangat kelihatan dari kondisi kepadatan
pemukiman tersebut dimana tampak terjadi meningkatnya ketersediaan
infrastruktur.
Pertambahan penduduk
hanya pada satu kota jika tidak diatasi akan mengakibatkan menumpuknya jumlah
penduduk yang tidak merata. Hal tersebut akan berhubungan dengan lingkungan
pemukiman, karena jika terjadinya penumpukan penduduk hanya pada satu kota saja
ini akan menimbulnya jumlah penduduk yang semakin padat dan terutama pada
tempat tinggal pemukiman. Pemukiman yang ditempati oleh banyaknya penduduk pada
satu kota atau daerah tertentu ini akan menimbulkan masalah terutama pada
lingkungan. Maka Peran infrastruktur
dalam pengembangan perumahan dan permukiman dinilai sangat penting, karena
infrastruktur merupakan syarat mutlak bagi terciptanya lingkungan permukiman
yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan. Persoalan infrastruktur tersebut
timbul karena bertambahnya penduduk pemukiman, peningkatan pendapatan,
peningkatan pemilikan kendaraan dan dibangunnya fasilitas di kawasan komersial
di sekitar kota. Dampak yang sangat
pasti terjadi adalah meningkatnya kebutuhan infrastruktur, yang kemudian karena
kejenuhannya menimbulkan tidak optimalnya pelayanan sarana dan prasarana. Untuk
menciptakan suatu lingkungan pemukiman yang baik maka diperlukan infratruktur
pemukiman dan fasilitas umum pemukiman. Adapun yang dimaksud dengan
infrastruktur pemukiman ialah jalan lokal, saluran drainase, pengadaan air
bersih, pembuangan air kotor, persampahan, listrik dan telepon. Dilihat dari
perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat dapat berdampak kepada
meningkatnya kepadatan penduduk, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan mutu
lingkungan secara menyeluruh. Menurut Soemarwoto (1991:230-250) bahwa secara
rinci dampak kepadatan penduduk sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang
cepat terhadap kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut:
(1)
Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik.
Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang persatuan luas
bertambah. Karena itu jumlah produksi limbah persatuan luas juga bertambah.
Dapat juga dikatakan di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi
konsentrasi produksi limbah.
(2)
Pertumbuhan penduduk yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi
dan teknologi yang melahirkan industri dan sistem transport modern. Industri
dan transport menghasilkan berturut-turut limbah industri dan limbah transport.
Di daerah industri juga terdapat kepadatan penduduk yang tinggi dan transport
yang ramai. Di daerah ini terdapat produksi limbah domsetik, limbah industri dan
limbah transport.
(3)
Akibat pertambahan penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan
pangan. Kenaikan kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan intensifikasi lahan
pertanian, antara lain dengan mengunakan pupuk pestisida, yang notebene
merupakan sumber pencemaran. Untuk masyarakat pedesaan yang menggantungkan
hidupnya pada lahan pertanian, maka seiring dengan pertambahan penduduk,
kebutuhan akan lahan pertanian juga akan meningkat. Sehingga ekploitasi hutan
untuk membuka lahan pertanian baru banyak dilakukan. Akibatnya daya dukung
lingkungan menjadi menurun. Bagi mereka para peladang berpindah, dengan
meningkatnya pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat, berarti menyebabkan
tekanan penduduk terhadap lahan juga meningkat. Akibatnya proses pemulihan lahan
mengalami percepatan. Yang tadinya memakan waktu 25 tahun, tetapi dengan
semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan maka bisa berkurang
menjadi 5 tahun. Saat dimana lahan yang baru ditinggalkan belum pulih
kesuburannya.
(4)
Makin besar jumlah penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya.
Untuk penduduk agraris, meningkatnya kebutuhan sumber daya ini terutama lahan
dan air. Dengan berkembangnya teknologi dan ekonomi, kebutuhan akan sumber daya
lain juga meningkat, yaitu bahan bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan
makin meningkatnya kebutuhan sumber daya itu, terjadilah penyusutan sumber
daya. Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran. Makin besar
pencemaran sumber daya, laju penyusunan makin besar dan pada umumnya makin
besar pula pencemaran.
Bergesernya pola hidup
masyarakat dan tingginya tuntutan hidup modern yang makin sulit dikejar
menyebabkan terjadinya banyak stressor atau penyebab stress yang menyerang
masyarakat metropolis. Tidak mengherankan bila gangguan kejiwaan pun menjadi
salahsatu penyakit tren masyarakat kota dewasa ini. Indikatornya, jelas
terlihat dari banyaknya pasien non psikosa (bukan kejiwaan) yang dirawat
instalasi Ilmu Kedokteran Jiwa berbagai RSU.
Sebelum berakibat lebih parah,
selayaknya kita bercermin pada berbagai kejadian khusus yang cenderung muncul
di perkotaan. Jakarta, Surabaya, Medan dan kota besar lainnya tidak hanya
tampak indah dengan gedung-gedung pencakar langit dengan arsitektur modern dan deretan
mobil mewah yang berseliweran. Kota-kota ini tidak hanya gagah karena
gemerlapnya lampu-lampu kota yang menghidupkan suasana malam. Namun, di balik
gemerlap semua itu, kota ini juga mempunyai berbagai masalah pelik sebagai kota
besar yang notabene menjadi sasaran kaum urban sebagaimana dialami kota-kota
besar lain di berbagai belahan dunia.
Akumulasi berbagai
masalah klasik akibat peningkatan jumlah penduduk kota yang cepat makin
dirasakan dampaknya, mulai dari kemiskinan, pencemaran, pengangguran, hingga
kriminalitas dan sebagainya. Diperburuk lagi, kini banyak problema lingkungan
hidup kota sehingga pelestarian lingkungan makin berkurang dan perencanaan kota
jadi tidak sesuai dengan kenyataan akibat pengaturan Rencana Tata Ruang dan
Wilayah (RTRW) baik kota maupun propinsi yang sering tidak sinkron. Buntut dari
rangkaian masalah itu tidak lain adalah tingkat daya dukung kota terhadap
kehidupan warga yang makin rendah.
Secara umum, pertumbuhan penduduk
kota-kota di dunia cenderung mengalami lonjakan yang sangat fenomenal,
sementara pada saat yang sama, kualitas lingkungan cenderung menurun. Lebih
dari setengah jumlah penduduk di dunia sekarang ini tinggal di perkotaan.
Masalah-masalah perkotaan, seperti kepadatan lalu lintas, pencemaran udara,
perumahan dan pelayanan masyarakat yang kurang layak, kriminal, kekerasan dan
penggunaan obat-obat terlarang menjadi masalah yang harus dihadapi masyarakat
perkotaan. Sangat wajar, apabila kecenderungan tersebut terus-menerus tidak
ditangani maksimal, ibarat bola salju yang makin lama makin membesar, dan
akhirnya memicu runtuhnya kekuatan psikologis masyarakat.
4.
PERTUMBUHAN
PENDUDUK DAN TINGKAT PENDIDIKAN
Suatu wilayah dengan
pertambahan penduduk yang pesat dapat menyebabkan masalah- masalah pendidikan,
pengangguran, kesenjangan sosial dan masalah-masalah lainnya. Dengan jumlah
penduduk yang besar maka fasilitas-fasilitas sosial, pendidikan dan pekerjaan
juga ikut meningkat. Jika penduduk di suatu kota yang padat tidak terpenuhi
fasilitas pendidikannya maka akan menyebabkan penurunan tingkat pendidikan
wilayah tersebut. Tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan pengangguran
sehingga dampak pada tingkat perekonomian juga memburuk. Jika masalah ini terus
diabaikan maka kemerosotan negara tidak dapat dihindari. Tingkat pendidikan
yang buruk dapat menyebabkan anak-anak mengalami depresi. Hal ini memicu
terjadinya pekerjaan-pekerjaan yang tidak layak dilakukan oleh anak-anak di
bawah umur. Bahkan dampak lain dari masalah ini bisa menyebabkan tingkat
tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak meningkat.
Generasi muda dan
anak-anak yang cerdas adalah kunci kemajuan suatu negara. Jika masa kanak-kanak
mereka diisi dengan hal-hal negatif maka jalan menuju kesuksesan bangsa akan
semakin jauh. Penduduk merupakan pelaku pembangunan. Maka kualitas penduduk
yang tinggi akan lebih menunjang laju pembangunan ekonomi. Usaha yang dapat
dilakukan adalah meningkatkan kualitas penduduk melalui fasilitas pendidikan,
perluasan lapangan pekerjaan dan penundaan usia kawin pertama. Di negara-negara
yang anggaran pendidikannya rendah, biasanya menunjukkan angka kelahiran yang
tinggi. Tidak hanya persediaan dana yang kurang, tetapi komposisi usia secara
piramida pada penduduk yang berkembang dengan cepat juga berakibat bahwa rasio
antara guru yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah akan terus berkurang.
Negara Indonesia
merupakan negara yang sedang berkembang sehingga untuk melaksanakan pembangunan
dalam segala bidang belum dapat berjalan dengan cepat, karena kekurangan modal
maupun tenaga tenaga ahli/ terdidik, Akibatnya fasilitas secara kualitatif
dalam bidang pendidikan masih terbatas. Pertambahan penduduk yang cepat, lepas
daripada pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan, cenderung
untuk menghambat perimbangan pendidikan. Kekurangan fasilitas pendidikan
menghambat program persamaan atau perimbangan antara pedesaan dan kota, dan
antara bagian masyarakat yang kaya dan miskin. Oleh karena itu, masyarakat
dalam mencapai pendidikan yang tinggi masih sedikit sekali. Hal ini disebabkan
karena :
a.
Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.
b.
Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana
pendidikan.
c.
Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah sehingga belum dapat
memenuhi Kebutuhan hidup primer, dan untuk biaya sekolah.
Dampak yang ditimbulkan dari rendahnya
tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
1.
Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga
ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah
penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli
yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
2.
Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima
hal-hal yang baru. Hal ini nampak dengan ketidak mampuan masyarakat merawat
hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas umum yang rusak
karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti
ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan.
Pengaruh daripada
dinamika penduduk terhadap pendidikan juga dirasakan pada keluarga. Penelitian
yang dilakukan pada beberapa negara dengan latar belakang budaya yang berlainan
menunjukkan bahwa jika digabungkan dengan kemiskinan, keluarga dengan jumlah
anak banyak dan jarak kehamilan yang dekat, menghambat perkembangan berfikir
anak-anak, berbicara dan kemauannya, di samping kesehatan dan perkembangan
fisiknya. Kesulitan orang tua dalam membiayai anak-anak yang banyak, lebih
mempersulit masalah ini. Helen Callaway, seorang ahli antropologi Amerika yang
mempelajari masyarakat buta huruf, menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi dan
perluasan pendidikan dasar telah memperluas jurang pemisah antara pria dan
wanita. Hampir di mana – mana pria diberikan prioritas untuk pendidikan umum
dan latihan – latihan teknis. Mereka adalah orang – orang yang mampu menghadapi
tantangan – tantangan dalam dunia. Sebaliknya pengetahuan dunia di tekan secara
tajam pada tingkat yang terbawah.
Pengaruh daripada
dinamika penduduk terhadap pendidikan juga dirasakan pada keluarga. Penelitian
yang dilakukan pada beberapa negara dengan latar belakang budaya yang berlainan
menunjukkan bahwa jika digabungkan dengan kemiskinan, keluarga dengan jumlah
anak banyak dan jarak kehamilan yang dekat, menghambat perkembangan berfikir
anak – anak, berbicara dan kemauannya, di samping kesehatan dan perkembangan
fisiknya. Kesulitan orang tua dalam membiayai anak – anak yang banyak, lebih
mempersulit masalah ini padahal tingkat pendidikan sangat siperlukan sebagai
alat menyampaikan informasi kepada manusia tentang perlunya perubahan dan untuk
merangsang penerimaan gagasan – gagasan baru.
5.
PERTUMBUHAN
PENDUDUK DAN PENYAKIT YANG BERKAITAN DENGAN LINGKUNGAN HIDUP
Kemampuan manusia untuk
mengubah atau memoditifikasi kualitas lingkungannya tergantung sekali pada
taraf sosial budayanya. Masyarakat yang masih primitif hanya mampu membuka
hutan secukupnya untuk memberi perlindungan pada masyarakat. Sebaliknya,
masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup
sampai taraf yang irreversible. Perilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup
tersendiri yang akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang
diinginkannya mengakibatkan timbulnya penyakit juga sesuai dengan prilakunya
tadi. Dengan demikian eratlah hubungan antara kesehatan dengan sumber daya
social ekonomi. WHO menyatakan “Kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh
secara fisik, mental dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari
penyakit”.Dalam Undang Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan.
Dalam Bab 1,Pasal 2 dinyatakan bahwa “Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan
(somatik),rohani (jiwa) dan sosial dan bukan hanya deadaan yang bebas dari
penyakit, cacat dan kelemahan”. Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada
kata kesehatan.
Keadaan kesehatan
lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian,
karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Peledakan
penduduk, penyediaan air bersih, pengolalaan sampah,pembuangan air limbah
penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan,
ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai,penggundulan hutan dan banyak
lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit. Jumlah penduduk
yang sangat besar 19.000 juta harus benar-benar ditangani masalah.pemukiman
sangat penting diperhatikan. Pada saat ini pembangunan di sektor perumahan
sangat berkembang, karena kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Perumahan juga
harus memenuhi syarat bagi kesehatan baik ditinjau dari segi bangungan,
drainase, pengadaan air bersih, pentagonal sampah domestik uang dapat
menimbulkan penyakit infeksi dan ventilasi untuk pembangunan asap dapur.
Indonesia saat ini
mengalami transisi dapat terlihat dari perombakan struktur ekonomi menuju
ekonomi industri, pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi yang meningkatkan
jumlahnya, maka berubahlah beberapa indikator kesehatan seperti penurunan angka
kematian ibu, meningkatnya angka harapan hidup ( 63 tahun ) dan status gizi.
Jumlah penduduk terus bertambah, cara bercocok tanam tradisional tidak lagi
dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Pertumbuhan Penduduk yang tidak
merata tersebut sangat berpengaruh dengan lingkungan, penduduk yang tinggal
dipemukiman yang sembarangan akan mengakibatkan lingkungan yang tidak bersih.
Lingkungan yang tidak dijaga akan mengakibatkan penyakit yang dapat mengacam
kesehatan manusia, misalnya penyakit yang diakibatkan oleh lingkungan adalah
Malaria, Muntaber, Penyakit Kulit, Tifus, dll. Seperti banjir, polusi air, dan
polusi udara adalah faktor yang mengakibatkan terjadinya penyakit, jika lama
kelamaan manusia tidak memperhatikan lingkunganya maka sangat besar peluang
penyakit menyebar, dalam hal ini kesadaran manusia sangat dibutuhkan, kita
diharapkan perlu adanya sosialisasi kepada penduduk tentang pemukiman yang
sehat dan adanya jaminan kesehatan bagi masyarakat luas dari pemerintah dan
pemerintah haruslah meningkatkan pendidikan kesehatan bagi masyarakat, dan yang
paling penting diperhatikan pemeintah adalah pelayanan kesehatan masyarakat
yaitu dengan menciptakan klinik disetiap pemukiman penduduk.
6.
PERTUMBUHAN
PENDUDUK DAN KELAPARAN
Ketika pertumbuhan
penduduk naik maka angka kelaparan pun juga ikut naik, Karena kurangnya suplai
makanan yang dibutuhkan tidak mencukupi seluruh penduduk dan salah satu factor
utama dalam suplai makanan adalah uang dan melebihkan batas suplai bagi
orang-orang tingkat atas. Kekurangan gizi dan angka kematian anak meningkat di
sejumlah kawasan yang paling buruk di Asia dan Pasifik kendati ada usaha
internasional untuk menurunkan keadaan itu, kata sebuah laporan badan kesehatan
PBB hari Senin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa sasaran kesehatan
yang ditetapkan berdasarkan delapan Tujuan Pembangunan Milenium PBB tahun 2000
tidak akan tercapai pada tahun 2015 berdasarkan kecnderungan sekarang. “Sejauh
ini bukti menunjukkan bahwa kendati ada beberapa kemajuan, di banyak negara,
khususnya yang paling miskin, tetap ketinggalan dalam kesehatan,” kata Dirjen
WHO Lee Jong Wook dalam laporan itu. Kendati tujuan pertama mengurangi
kelaparan, situasinya bahkan memburuk sementara negara-negara miskin berjuang
mengatatasi masalah pasokan pangan yang kronis.
7.
KEMISKINAN
DAN KETERBELAKANGAN
Salah satu wabah
penyakit yang melanda negara-negara yang sedang berkembang ialah kemiskinan dan
keterbelakangan. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah suatu penyakit, karena
dalam kenyataannya dua hal itu melemahkan fisik dan mental manusia yang
tentunya juga berdampak negative terhadap lingkungan. Kemiskinan dan
keterbelakangan begitu erat kaitannya satu sama lain sehingga dapat dianggap
sebagai satu pengertian, maka digunakan satu istilah saja, yaitu kemiskinan di
mana sudah terkait pengertian keterbelakangan.
Dampak kemiskinan
terhadap orang-orang miskin sendiri dan terhadap lingkungannya, baik lingkungan
social maupun lingkungan alam, dengan sendirinya sudah jelas negative. Orang
miskin tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi minimal bagi dirinya sendiri maupun
bagi keluarganya. Dampak kemiskinan terhadap lingkungan social
tampakmengalirnya penduduk ke kota-kota tanpa bekal pengetahuan apalagi bekal
materi. Akibatnya antara lain ialah banyaknya tukang becak, pemungut punting,
gelandangan, pengemis, dan sebagainnya yang menghuni kampung-kampung liar dan
jorok di gubuk-gubuk reot yang tidak pantas didiami manusia. Sebab-sebab
kemiskinan yang pokok bersumber dari empat hal, yaitu mentalitas si miskin itu
sendiri, minimnya ketrampilan yang dimilikinya, ketidakmampuannya untuk
memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang disediakan, dan peningkatan jumlah penduduk
yang relatif berlebihan.
Kemiskinan dan
keterbelakangan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini
secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi
moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang
telah mapan,dll. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahaman utamanya mencakup:
a.
Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan
sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti
ini dipsdfgeggahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan
dasar.
b. Gambaran tentang kebutuhan sosial,
termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
c.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna
"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik
dan ekonomi di seluruh dunia.
Kartasasmita mengatakan
bahwa kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang ditandai dengan
pengangguran dan keterbelakangan, yang kemudian meningkat menjadi ketimpangan.
Masyarakat miskin pada umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas
aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga tertinggal jauh dari masyarakat
lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi. Hal tersebut senada dengan yang
dikatakan Friedmann yang mengatakan bahwa kemiskinan sebagai akibat dari
ketidak-samaan kesempatan untuk mengakumulasi basis kekuatan sosial. Namun
menurut Brendley, kemiskinan adalah ketidaksanggupan untuk mendapatkan
barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan
sosial yang terbatas. Hal ini diperkuat oleh Salim yang mengatakan bahwa
kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memperoleh
kebutuhan hidup yang pokok. Sedangkan Lavitan mendefinisikan kemiskinan sebagai
kekurangan barang-barang dan pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu
standar hidup yang layak.