Kota Balikpapan
Balikpapan merupakan
sebuah kota di Kalimantan Timur, Indonesia. Balikpapan memiliki penduduk
sebanyak 701.066 jiwa[6], yang merupakan 22 % dari
keseluruhan penduduk Kaltim. Balikpapan merupakan kota dengan biaya hidup
termahal se-Indonesia.[7][8] Logo dari
kota yang sering disebut Kota Minyak (Banua Patra) dan Bumi Manuntung
ini adalah beruang madu,
maskot Balikpapan yang mulai di ambang kepunahan. Nama asli Balikpapan adalah
Billipapan[9][10] atau Balikkappan[11] (logat Banjar).
Sejarah
Asal usul nama Balikpapan
Ada beberapa hikayat populer yang
menceritakan asal usul kota yang berada di pesisir timur Kalimantan ini, yaitu:
·
Adanya 10 keping papan yang kembali ke Jenebora dari
1.000 keping yang diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan
bangunan untuk pembangunan Istana Baru Kutai Lama. Kesepuluh papan yang balik
tersebut disebut oleh orang Kutai Balikpapan Tu. Sehingga wilayah
sepanjang Teluk Balikpapan,
tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan.[14]
·
Suku Pasir Balik (suku
asli Balikpapan) adalah keturunan kakek dan nenek bernama Kayun Kuleng dan
Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang Teluk Balikpapan oleh keturunannya
disebut Kuleng-Papan atau artinya Balikpapan (dalam bahasa Paser, Kuleng
artinya Balik).
·
Dalam legenda lain juga disebutkan asal usul Balikpapan, yaitu dari seorang
putri yang dilepas oleh ayahnya seorang raja yang tidak ingin putrinya tersebut
jatuh ke tangan musuh. Sang putri yang masih balita diikat di atas beberapa
keping papan dalam keadaan terbaring. Karena terbawa arus dan diterpa
gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar di tepi
pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata terdapat
seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri tersebut
bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir.
Sehingga daerah tempat ditemukannya dinamakan Balikpapan.
·
Hari jadi kota Balikpapan adalah tanggal 10 Februari 1897.
Penetapan tanggal ini merupakan hasil Seminar Sejarah Balikpapan pada
tanggal 1 Desember 1984.
Tanggal 10 Februari 1897 ini adalah tanggal pengeboran minyak pertama di
Balikpapan yang dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi dari
pasal-pasal kerjasama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan
Co.[15]
Kesultanan Kutai
Daerah Balikpapan dan Balikpapan
Seberang (Penajam) merupakan bagian dari wilayah negara
dependen Kesultanan Kutai.[16][17][18] Tahun 1942 Penajam termasuk
dalam wilayah Balikpapan.[19] Sejak sekitar tahun 1636,
Kalimantan pada umumnya termasuk negara bagian Kutai, negara bagian Paser dan negara bagian Berau diklaim sebagai
wilayah mandala negaraKesultanan
Banjarmasin.[20] Pada 13 Agustus 1787, Sunan Nata Alam telah menyerahkan
kedaulatannya atas sebagian besar Kalimantan kepada perusahaan VOC, yang
kemudian diperbarui lagi pada tanggal 4 Mei 1826 pada
masa Sultan Adam. Setelah
itu Kalimantan pada umumnya menjadi wilayah negara Hindia Belanda. Tahun 1844,
bekas negara bagian Kutai secara resmi mendapat pengakuan sebagai negara dependensi di dalam negara Hindia
Belanda.[21] Menurut Staatsblad van
Nederlandisch Indië tahun 1849, Kutai termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling
berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van
Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8[22] Tahun 1855, Kutai merupakan
sebagian daride zuid- en oosterafdeeling van Borneo yang beribukota
di Banjarmasin.[23]
Hindia Belanda
Dengan ditemukannya sumber-sumber minyak
di daerah Balikpapan dan daerah sekitarnya (Samboja, Sanga-Sanga danMuara Badak),
pemerintah Hindia Belanda akhirnya
membeli wilayah ini dari Sultan Kutai Kertanegara serta dibangun untuk
mendukung usaha-usaha pertambangan khususnya perminyakan dengan
mendirikan kilang minyak,
kantor operasi serta perumahan pegawai (sisa-sisa usaha pembangunan Hindia
Belanda dapat dilihat dari pemukiman para staf Pertamina). Aktivitas perminyakan ini juga
membantu perpindahan penduduk terutama para pekerja dari Jawa, serta dari
berbagai daerah. Saat itu perusahaan minyak yang dikenal adalah BPM, Shell dan KPM.
Wilayah Balikpapan pada tahun 1930 itu meliputi Balikpapan Seberang (Penajam).[24]
Pendudukan Jepang
Pada masa Perang Dunia II, Jepang mengincar wilayah ini sebagai batu
loncatan mengadakan serangan ke Jawa.
Pada tanggal 23 Januari 1942,
armada Jepang dibawah pimpinan Shizuo Sakaguchi merebut Balikpapan dari tangan
pasukan Sekutu dan Hindia Belanda.[25][26] Wilayah Balikpapan saat itu
meliputi Balikpapan Seberang (Penajam).[27] Nilai strategis kota
Balikpapan juga diperhitungkan tentara sekutu, pada tahun 1945 tentara sekutu
di bawah komando Australia merebut
kota ini dari tangan Jepang pada pertempuran 26 Juni-15 Juli 1945 dalam
usaha merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Jepang.[28][29][30][31]
Republik Indonesia
Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia agak terlambat sampai di kota
ini, sekitar tahun 1945-1946 melalui
pekerja BPM yang datang dari Jawa dalam rangka rehabilitasi kilang minyak yang
hancur akibat perang yang dilanjutkan dengan pernyataan rakyat di Lapangan
FONI. Namun karena Belanda berniat
menguasai kembali kota ini maka terjadi peperangan yang berlanjut sampai pada
pertempuran Sangatta. Pada masa pengakuan kedaulatan tahun 1949,
wilayah ini diserahkan kepada Pemerintah Republik
Indonesia Serikat yang berlanjut kepada Republik Indonesia.
Geografi
Kota Balikpapan memiliki wilayah 85% berbukit-bukit serta 12% berupa daerah
datar yang sempit terutama berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sungai
kecil serta pesisir pantai. Dengan kondisi tanah yang bersifat asam (gambut)
serta dominan tanah merah yang kurang subur. Sebagaimana layaknya wilayah lain
di Indonesia, kota ini juga beriklim tropis. Kota ini berada di pesisir timur
Kalimantan yang langsung berbatasan dengan Selat Makassar, memiliki teluk yang dapat
dimanfaatkan sebagai pelabuhan laut komersial dan pelabuhan minyak.
Batas wilayah
Letak astronomis Balikpapan berada di antara 1,0 LS - 1,5 LS dan 116,5 BT -
117,5 BT dengan luas sekitar 503,3 km² dengan batas-batas wilayah sebagai
berikut:
Suku bangsa
Suku asli Balikpapan adalah
Suku Balik yang merupakan suku minoritas.[32][33] Suku Balik biasanya
digabungkan ke dalam Suku Paser karena
dianggap serumpun sehingga disebut Paser-Balik, padahal sebenarnya Suku Balik
tidak mau serta merta disamakan dengan Suku Paser, karena terdapat beberapa
perbedaan. Seperti yang terjadi di kawasan Kalimantan lainnya, Suku Banjar yang datang ke Balikpapan
menyerap unsur-unsur suku lokal melalui perkawinan campur (hibrida) dengan Suku
Balik dan Suku Paser yang memunculkan komunitas Banjar-Balik. Secara garis
besar ada lima budaya dasar sukubangsa asal Kalimantan yang
disebut Rumpun Kalimantan,[34] empat di antaranya terdapat di
Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan yaitu: Banjar, Kutai, Dayak, Paser yang
biasa disingkat Komunitas BAKUDAPA atau jika ditambah etnis
Tidung menjadiBAKUDAPATI (akronim Banjar, Kutai, Dayak, Paser,
Tidung) jika dihitung mencapai 31,39% populasi (sensus tahun 2000). Di
antarakeempat suku asal Kalimantan tersebut, Suku Banjar merupakan yang
terbanyak sejak masa kolonial.[35] Selain empat suku di atas,
banyak pula suku-suku asal dari pulau Sulawesi, Jawa, Sumatera, dan pulau
lainnya sehingga yang pada awal pertumbuhan kota Balikpapan setidaknya
terbentuk tiga kantong pemukiman Banjar, Jawa dan Bugis.
Bahasa daerah
Bahasa daerah yang sering digunakan
adalah:
1. Bahasa Paser
2. Bahasa Kutai
4. Bahasa Bugis
5. Bahasa Jawa
Umumnya bahasa yang digunakan pada
keseharian warga Balikpapan adalah bahasa Indonesia.
Pembagian administratif dan kepala daerah
Peta perbatasan
wilayah sebelah utara.
Kantor wali kota
Balikpapan.
Gedung DPRD Kota
Balikpapan.
Kecamatan
Dengan diberlakukannya Perda Balikpapan
No. 8 Thn. 2012, maka diresmikan kecamatan Balikpapan Kota dan
menambah jumlah kecamatan menjadi 6 yakni:
Kelurahan
Sehubungan dengan pemekaran kecamatan tersebut, maka melalui Perda
Balikpapan No. 7 Thn. 2012 ditetapkan pemekaran 7 kelurahan baru. Dengan
demikian maka pada saat ini Balikpapan terdiri dari 34 (tiga puluh empat) kelurahan yakni:
1. Manggar
2. Manggar Baru
3. Lamaru
4. Teritip
5. Prapatan
6. Klandasan Ulu
7. Klandasan Ilir
8. Damai
9. Gn. Bahagia
10. Sepinggan
11. Gn. Sari Ilir
12. Gn. Sari Ulu
13. Mekar Sari
14. Karang Rejo
15. Sumber Rejo
16. Karang Jati
17. Gn. Samarinda
18. Muara Rapak
19. Batu Ampar
20. Karang Joang
21. Baru Ilir
22. Margo Mulyo
23. Marga Sari
24. Baru Tengah
25. Baru Ulu
26. Kariangau
27. Telaga Sari
28. Damai Baru
29. Damai Bahagia
30. Sungai Nangka
31. Sepinggan Baru
32. Sepinggan Raya
33. Gn. Samarinda Baru
34. Graha Indah
Dari 27 kelurahan sebelum pemekaran
terdapat 369 RW dan 1.143 RT. Ini berarti bahwa jumlah RW sebelum dan sesudah
pemekaran tidak berubah, sedangkan RT mengalami penambahan sebanyak 62 buah
sehingga berubah dari jumlah 1.081 menjadi 1.143 RT.
Mendapatkan status kota
Tugu Adipura di
simpang pertigaan Jalan Jenderal A. Yani dan Jalan Pangeran Antasari.
Balikpapan adalah berstatus sebagai kota
dengan wali kota sebagai kepala daerah dan DPRD sebagai legislatif serta
memiliki perlengkapan pemerintahan dan aparatur pemerintah seperti Kepolisian,
Kejaksaan Negeri, Rumah Tahanan dan Lembaga Permasyarakatan serta Pengadilan Negeri.
Selain itu Balikpapan menjadi pusat pemerintahan untuk wilayah Kalimantan Timur danKalimantan. Tercatat di antaranya kantor Polda
(Kepolisian Daerah) Kalimantan Timur dan Kejaksaan Tinggi berpusat disini.
Serta markas besar Angkatan Darat, yakni Komando Daerah Militer (KODAM) VI
Mulawarman yang memiliki daerah operasi wilayah Kalimantan
Timur dan Kalimantan Selatan berpusat di kota ini. KODAM yang memiliki motto
"Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing" merupakan satu-satunya KODAM
yang berpusat di kota, bukan ibu kota provinsi.
Walikota
1. H.A.R.S. Muhammad
(1960 - 1963)
2. Mayor TNI AD Bambang
Soetikno (1963 - 1965)
3. Mayor TNI AD Imat
Saili (1965 - 1967)
4. Mayor POL. Zainal
Arifin (1967 - 1973)
5. Letkol. Pol.
H.M. Asnawi Arbain (1974
- 1981)
6. Kol. CZI. TNI AD
Syarifudin Yoes (1981 - 1989)
7. H. Hermain Okol
(sebagai Pelaksana Walikota) (1989 - 1991)
8. Kol. Inf. H. Tjutjup
Suparna (1991 - Juni 2001)
9. Imdaad Hamid (Juni 2001 - 29 Mei 2011)
10. H.M. Rizal Effendi, SE.(29 Mei 2011 - kini)
Ekonomi
Salah satu pusat
hiburan dan perbelanjaan di Balikpapan, E-Walk Balikpapan Superblock.
Perekonomian kota ini bertumpu pada
sektor industri yang didominasi oleh industri minyak dan gas, perdagangan dan
jasa. Kota ini memiliki bandar udara berskala internasional,
yakni Bandar
Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan serta Pelabuhan
Semayang selain pelabuhan minyak yang dimiliki Pertamina.
Di sektor perdagangan, pemerintah kota
melindungi pengusaha lokal Balikpapan dengan membentuk peraturan daerah yang
tidak lagi menerbitkan izin kepada toko modern seperti minimarket dari luar
kota untuk beroperasi di Balikpapan. Selain itu pemerintah kota juga akan
mengatur jarak dan jam operasional setiap minimarket sehingga pengusaha lokal
dapat bersaing di tengah kompetisi yang semakin ketat.[38]
Kependudukan
Padatnya pemukiman warga di Balikpapan sangat rawan akan kebakaran.
Dengan semakin tumbuhnya perekonomian
terutama sejak diberlakukannya otonomi daerah, kota ini terus menerus dibanjiri
oleh pendatang dari berbagai daerah, sehingga pemerintah kota memberlakukan
operasi kependudukan berupa Operasi KTP di
pintu masuk kota, jalan raya, pemukiman, bandara serta pelabuhan. Penduduk terutama dari etnis
pendatang yang sudah lama menetap di Balikpapan yakni berasal dari etnisBanjar, Bugis, Makassar, Jawa Timur kemudian pendatang lain yang
di antaranya beretnis Manado, Gorontalo,Madura, Jawa, Sunda dan lain-lain.
Di awal Juni 2014, jumlah penduduk
mencapai 684.339 jiwa dengan jumlah pendatang selama tahun 2012 sebanyak 21.486
jiwa yang merupakan jumlah tertinggi selama tiga tahun terakhir Jumlah pendatang tersebut
mampu melampaui jumlah pendatang yang masuk di Singapura pada tahun yang sama
yakni sebanyak 20.693 jiwa. Antara tahun 2003 hingga 2012,
jumlah pendatang tercatat 170 ribu jiwa lebih, sebagian besar dari pendatang
tersebut memenuhi persyaratan dan menjadi warga tetap,
sedangkan sisanya dipulangkan atau pindah sendiri. Peningkatan jumlah penduduk
terjadi akibat tingginya arus migrasi pendatang serta pertambahan alamiah (kelahiran), sehingga Balikpapan mulai
tahun 2005 hingga saat ini menjadi kota terpadat penduduk di Kaltim.Pertumbuhan pendatang dua kali lipat
lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kelahiran. Jumlah pendatang yang tinggi
tidak dibarengi dengan kompetensi yang memadai dan tidak sesuai dengan sektor
yang dibutuhkan. Tercatat sekitar 9 ribuan pendatang dengan pendidikan lulusan
SD sempat mencari kerja di kota ini, namun tidak ada permintaan tenaga kerja
dari lulusan SD. Daya tampung Balikpapan terhadap tenaga kerja sudah sangat
minim, jumlah pencari kerja selalu jauh lebih tinggi dibandingkan permintaan
tenaga kerja. Jumlah pendatang yang mencari kerja melonjak drastis, sementara
permintaan tenaga kerja yang rendah hanya mengakibatkan peningkatan angka
pengangguran. Tingginya angka pengangguran dan pekerja sektor informal menjadi
penyebab masalah penataan kota, pemukiman tak layak, kekumuhan dan peningkatan
kriminalitas. Pemerintah kota pun telah membuat peraturan kota yang mewajibkan
seluruh pendatang untuk membayar dana jaminan serta memenuhi beberapa
persyaratan hingga setengah tahun. Setiap penduduk juga
diwajibkan untuk membawa KTP Balikpapan dalam perjalanan kemanapun.
Berdasarkan asalnya, pendatang berasal
dari pulau-pulau di sekitar seperti Jawa, Madura dan Sulawesi. Jumlah pendatang
paling banyak berasal dari Jawa yakni sebanyak 30%, kemudian diikuti dengan
Banjar dan Bugis masing-masing sebanyak 20%, Toraja sebanyak 11%, Madura
sebanyak 8%, Buton sebanyak 7% dan Betawi sebanyak 4%. Tingkat pendidikan
pendatang didominasi oleh lulusan SLTA sebanyak 36%, diikuti lulusan SD
sebanyak 25%, tidak tamat SD sebanyak 23%, lulusan SMP sebanyak 12% dan
perguruan tinggi hanya 4%. Alasan pendatang masuk ke Balikpapan beragam, paling
banyak karena mencari pekerjaan (48%), kemudian karena pindah kerja (33%) dan
karena ikut keluarga atau suami sebanyak 19%. Kesadaran pendatang dalam
membuang sampah di Balikpapan bervariasi, ada yang membuangnya tepat di TPS
hingga membuang bebas di sungai. Sekitar 50% pendatang membuang sampah di TPS,
kemudian sebanyak 35% pendatang pengelolaan sampahnya dipungut oleh petugas,
11% pendatang membakar sampahnya dan sebanyak 4% membuangnya langsung ke
sungai.
Dengan pertumbuhan pendatang yang sangat
tinggi, pada tahun 2015 jumlah penduduk diprediksi meningkat menjadi 825.275
jiwa yang mengakibatkan 5,15% (42.502 jiwa) penduduk Balikpapan saat itu tidak
dapat menikmati air bersih. Jumlah penduduk pada tahun
2033 diprediksi mencapai angka 1.102.366 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar
2.190 jiwa/km2.
|
Angka Kriminalitas
Jan-Nov 2012
|
||||
|
Jenis
|
Persentase
|
|||
|
Pencurian kendaraan
|
|
36.7%
|
||
|
Pencurian dengan pemberatan
|
|
33.1%
|
||
|
Penganiayaan
|
|
13.1%
|
||
|
Narkoba
|
|
9.2%
|
||
|
Perampokan
|
|
7.0%
|
||
|
Pembunuhan
|
|
0.9%
|
||
Jumlah penduduk miskin cenderung
meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data dari BPS Balikpapan, pada tahun
2009 terhitung 18.440 jiwa penduduk Balikpapan merupakan penduduk miskin,
kemudian pada tahun 2010 meningkat empat ribu jiwa menjadi 22.850 jiwa dan pada
tahun 2011 terjadi penurunan sedikit namun belum juga berkurang dari jumlah
tahun 2009 yakni sebanyak 19.820 jiwa.
Angka kriminalitas pada tahun 2012
mengalami peningkatan. Selama tahun 2012, terdapat 1.179 laporan kejahatan
diterima oleh Polres Balikpapan sedangkan pada tahun 2011 terdapat 1.168
laporan. Kasus kejahatan yang paling banyak dilaporkan yaitu pencurian
kendaraan sebanyak 433 kasus, disusul pencurian dengan pemberatan (curat)
sebanyak 390 kasus, penganiayaan sebanyak 154 kasus, narkoba sebanyak 108
kasus, perampokan sebanyak 82 kasus dan pembunuhan sebanyak 12 kasus. Jenis
kasus kejahatan yang meningkat tajam pada tahun 2012 yakni kasus narkoba yang
mana pada tahun 2011 hanya sebanyak 10 kasus, kemudian meningkat sepuluh kali
lipat menjadi 108 kasus.
Ekologi
Lihat pula: Kerusakan
hutan bakau di Balikpapan
Kondisi Balikpapan dilihat melalui satelit pada tahun 2013.
Kawasan hutan kota di Balikpapan tahun
demi tahun menyusut drastis. Dari 20 lokasi hutan kota di
Balikpapan termasuk wilayah Pertamina, sekitar 200 hektare telah dirambah
masyarakat untuk pemukiman baru. Di Hutan Lindung Sungai Wain,
yang merupakan daerah resapan air utama dan habitat satwa langka Kalimantan,
mulai dirambah masyarakat dengan cara tebang bakar sehingga ketika musim
kemarau sebagian kawasan tersebut menjadi tandus dan mengalami kerusakan 40%. Luas area hutan Sungai Wain
yang mencapai 10 ribu hektare, perlahan tapi pasti terus berkurang, hingga
menyisakan 9 ribu hektare dengan kondisi hutan yang masih baik hanya 63%.Warga sekitar banyak mencari kayu
untuk memasak di hutan tersebut walaupun di sekelilingnya telah dipagari kawat. Sebelumnya antara tahun 2000
hingga 2001, pembalakan liar terjadi di 10 hingga 15 titik di hutan Sungai
Wain, dan pada tahun 2009 hutan ini
dilanda kebakaran bersama hutan Sungai Manggar yang membuat 15 hektare kawasan
hutan terlalap api. Ancaman penambangan batu bara
dari wilayah sekitar yang memberikan izin penambangan seperti Paser dan Kutai
Kartanegara turut mengganggu ekosistem perbatasan hutan Sungai Wain.
Beruang madu, maskot Balikpapan yang terancam
punah.
Hutan kota di Telagasari yang diresmikan
tahun 1996 dengan luas 29,4 hektare, kini telah menyusut hingga menjadi 8
hektare saja.Hutan di tengah kota ini telah
dikelilingi pemukiman penduduk. Hutan lindung Sungai Manggar
juga mengalami kerusakan cukup parah, yakni sekitar 60%. Waduk di hutan ini pun
terancam karena lahan-lahan tambang batu bara dan pabrik bata didirikan begitu
dekat sehingga terjadi pendangkalan air waduk. Mayoritas dari yang mendirikan
tersebut bahkan diketahui merupakan masyarakat pendatang. Selain itu, pembangunan jalan
tol Samarinda-Balikpapan yang direncanakan pemerintah Kaltim yang membelah
hutan sepanjang 8 kilometer melintasi waduk bisa merusak kualitas sumber
air bersih di Balikpapan tersebut.
Kerusakan hutan mengakibatkan Balikpapan
mudah terjadi bencana banjir dan longsor setiap dilanda hujan deras. Suplai air bersih juga semakin
berkurang karena resapan air kian
menyempit, erosi mudah terjadi serta sedimen dari lokasi
penambangan yang mengalir ke sungai memperkeruh dan mendangkalkan waduk, ditambah dengan kondisi
Balikpapan yang hanya memiliki sedikit sungai dan tanah yang kurang subur.Populasi maskot Balikpapan,
beruang madu semakin sedikit yakni hanya tinggal 50 ekor.Hal ini disebabkan penambangan batu
bara yang mempersempit habitat beruang madu, sehingga beruang madu enggan
bereproduksi.Selain beruang madu, satwa
Balikpapan lainnya yang dinyatakan terancam punah yaitu bekantan, uwa-uwa
Kalimantan, orangutan Kalimantan, trenggiling dan musang air Bennet. Sedangkan satwa di Balikpapan
yang telah punah ialah banteng (Bos javanicus).
Perguruan tinggi
Gedung Kesenian Balikpapan.
·
STIE Madani Balikpapan
·
STIE Balikpapan
·
Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia
Rumah ibadah
Masjid Agung At Taqwa di Jalan Jenderal Sudirman.
Rumah ibadah yang terdapat di Balikpapan
antara lain :
·
Masjid Al-Aman, Damai
·
Masjid Al Amin, Sepinggan
·
Masjid Al Falah, Batakan
·
Masjid At Taqwa, Klandasan
·
Masjid Baiturrahman, Lamaru
·
Masjid Dwima As Salam, Kariangau
·
Masjid Istiqomah, Pertamina
·
Masjid Nurul Iman, Gn. Bahagia
·
Masjid Jabalussu'ada, Perum Bukit Damai Indah
·
Masjid Jami' Darussalam, Muara Rapak
·
Masjid Al Munawwar, Jl. Ahmad Yani
·
Gereja
Kalimantan Evangelis (GKE) Getsemani, Resort Balikpapan
·
GPIB Bukit Benuas
·
GPIB Maranatha
·
GPIB Bukit Sion
·
GPIB Getsemani
·
GPIB Pniel
·
GPIB Syalom
·
GPIB Imanuel
·
HKBP Balikpapan, Resort Kalimantan
Timur
·
Pura Giri Jaya Natha
·
Vihara Eka Dharma Manggala
·
Kelenteng Setya Dharma ( Guang De Miao )
Transportasi
Darat
Armada transportasi darat yang ada di
kota ini antara lain :
1. Taksi tanpa argo
meter.
2. Taksi dengan argo
meter.
3. Angkutan Kota (Angkot)
dengan jalur atau trayek berdasarkan nomor.
4. Ojek atau sepeda
motor.
Terminal yang ada di kota ini bernama
Batu Ampar.
Laut
Untuk transportasi laut, di kota ini
terdapat armada:
1. Kapal Laut
2. Speed Boat
3. Ketinting
Udara
Kota Balikpapan memiliki sarana untuk
transportasi udara, yaitu Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan
yang dapat didarati pesawat seperti
Boeing 737.
Wisata
Pantai Lamaru di pagi hari.
Kawasan mangrove di Hutan Lindung
Sungai Wain.
Kebun Raya Balikpapan, kebun raya terbesar di Indonesia.
Air mancur di Taman Bekapai.
Kota Balikpapan memiliki daerah wisata
yang cukup banyak dan beragam, di antaranya adalah:
1. Taman Agrowisata,
diresmikan tanggal 17 Desember 1997 oleh Bapak Tri Sutrisno, berlokasi di Jl.
Soekarno Hatta km 23, dengan luas 100 ha dan memiliki berbagai koleksi tanaman
tropis serta dilengkapi dengan tempat piknik terbuka, rumah panjang Dayak,
tempat berkemah dan pemandangan alami, dilengkapi play ground, shelter,
tempat parkir, mushola dan play group, dapat dikunjungi dengan
angkutan kota trayek nomor 8.
2. Wana Wisata Km 10
adalah taman arboretum yang dibangun oleh PT. Inhutani I Unit
Balikpapan, dengan berbagai jenis pohon hutan dan buah-buahan langka, sebagai
tempat berkemah dan jogging yang sejuk dan alami, dilengkapi gedung pertemuan,
pusat informasi, gazebo, play ground dan warung
kaki lima, dapat ditempuh dengan angkutan kota trayek nomor 8.
3. Karang Joang Resort,
Golf dan Country Club Balikpapan, yaitu padang Golf Kariangau terletak di
Kelurahan Karang Joang, tidak jauh dari sungai Wain, terdapat drive
rain, hotel berbintang dengan teras dan pembakaran barbeque, club
house dengan kolam renang dan activity room dengan
karaoke, meja bilyard, bar dan ruangan dengan acara khusus serta tersedia menu
masakan Tionghoa, Eropa dan Indonesia, dapat dipesan pada Resort &
Golf Karang Joang, Jl. Soekarno Hatta Km 5,5 Balikpapan.
4. Jembatan Ulin
Kariangau merupakan jembatan ulin terpanjang dengan panjang 800 m dan lebar 2
m, terletak 11 km dari pusat kota Balikpapan, terdapat hutan bakau dengan
pemandangan lepas ke teluk Balikpapan dengan aktivitas nelayan dan kapal-kapal
yang melintas dari pelabuhan Somber menuju Pelabuhan Penajam.
5. Pantai Manggar
Segarasari merupakan tempat rekreasi pantai terletak 22 km dari pusat Kota
Balikpapan tepatnya di kecamatan Balikpapan Timur. Di sana terdapat shelter, banana
boat, speed boat, ruang informasi dan warung kaki lima. Pantai
ini dapat dicapai dengan angkutan kota trayek nomor 7.
6. Hutan Lindung
Sungai Wain merupakan hutan lindung dengan luas 10.025 ha yang
dilalui sungai Wain yang panjangnya 18.300 m dengan airnya yang jernih dengan
hutan bakau dan habitat burung, ikan , kepiting dan orang hutan.
7. Panorama Dermaga
Penyeberangan Somber, dapat dicapai dengan trayek angkutan kota nomor 3.
8. Penangkaran Buaya
seluas 6 hektar dengan 3000 ekor buaya di Desa Tertitip.
9. Monumen Jepang
10. Monumen Perjuangan
Rakyat
11. Perkebunan Salak
12. Tugu Peringatan Divisi
7 Australia
13. Kilang Minyak
Balikpapan
14. Monumen Mathilda
15. Taman Bekapai
16. Pantai Melawai
17. Pantai Lamaru
18. Pantai Polda
19. Pantai Strans (Pantai
Banua Patra)
20. Goa Jepang
21. Meriam Peninggalan
Jepang
22. Kampung Atas Air
(Kampung Baru)
23. Museum Tanjungpura
24. Lapangan Merdeka
25. Kebun Raya Balikpapan
26. Lamin Etam Ambors
Taman Makam Pahlawan Dharma Agung
Tugu Kilang Minyak di Karang Anyar
Balikpapan Sport and Convention Center (Dome
Balikpapan)
Jalan Yos Sudarso
Rumah Sakit Pertamina
Kawasan Balikpapan Baru
Lapangan Merdeka
Stadion Persiba





















